Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Membangun Diri

1 Komentar


membangun diri

membangun diri

Diantara sekian banyak rahmat Allah, salah satunya berkenan dengan masalah persaudaraan dan persahabatan. Ditegaskan, bahwa seluruh kaum beriman itu bersaudara. Dalam beragama, intinya jangan saling bercerai-berai atas namanya dan pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok. Yang merespon rahmat Ilahi sajalah yang dapat menghindari pertikaian dan pertengkaran,

Q. S. 11/118-119
”Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.”
dalam kaitan membangun diri, marilah kita semua berharap untuk mendapatkan yang terbaik berdasarkan sikap saling mengerti dan karena kerinduan yang tulus kepada kebenaran, kebersamaan, dan persatuan.

Dan untuk mencapai keadaan yang lebih baik dari keadaan sekarang ini, tentu saja memerlukan persiapan-persiapan. Persiapan-persiapan berbentuk daya upaya, kekuatan jasmani, rohani, pengorbanan harta benda, maupun kemampuan lain yang kita miliki. Semua persiapan-persiapan itu harus kita wujudkan dalam program membangun masa depan, memfokuskan segala dana yang kita punyai kepada usaha mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan, sesuatu yang diistilahkan oleh ajaran Ilahi sebagai al-’aqabah. Yaitu jalan yang mendaki lagi sukar.
Memang, mengangkat harkat dan martabat manusia dan kemanusiaan itu merupakan sesuatu yang sangat prinsipil. Bila saja kita memiliki keberanian dan kreativitas untuk menuju program tersebut (dan sememangnya harus ditempuh), sangat boleh jadi sesuatu perubahan yang terprogram akan dapat diwujudkan.

Dalam ajaran Ilahi tentang al-’aqabah itu menyangkut berbagai hal tentang:
Pertama, membebaskan perbudakan. Pada dasarnya ummat manusia di sisi Tuhan itu adalah sama kedudukannya,yang kemudian manusia itu bisa tampil menjadi budak atau diperbudak adalah terciptanya suatu kesenjangan di antara ummat manusia itu sendiri. Sebagian telah berkemampuan untuk mencapai kecerdasan hidup ditopang oleh penguasa ilmu dan kemahiran/ ketrampilan, sedangkan di lain pihak tidak memiliki kesempatan untuk itu. Dari kesenjangan inilah sesuatu yang terjadi menjadi sangat antagonistis.
Dalam kehidupan kita sebagai bangsa, sering kita menyaksikan kelemahan yang ada pada sebagian warga bangsa ini nyaris menjadi suatu keabsahan untuk diposisikan seperti ”budak”, dan pihak yang kuat tampil sebagai tuan yang punya ”hak” untuk memperbudak kehidupan yang menampilkan potret budak maupun perbudakan ini sesungguhnya bersumber dari kesenjangan pendidikan maupun moralitas.

Sejarah bangsa Indonesia, yang mengalamai keterjajahan selama berabad-abad, diperbudak oleh penjajah masa yang panjang, diperlakukan sebagai budak oleh penjajah nampaknya ikut mempengaruhi jiwa bangsa sehingga sikap perbudakan itu selalu tampak dalam kehidupan keseharian.
Dalam pergaualn antar antar bangsa, sampai saat ini bangsa Indonesia masih menampilkan aktivitas potret perbudakan. Contoh, berduyun-duyunnya tenaga kerja Indonesia yang mencari kerja ke luar negeri. Posisi pekerjaan mereka mayoritas menempatkan posisi yang memberi kesempatan kepada pengguna jasa sebagai ”tuan” yang berkesempatan memperbudak tenaga kerja Indonesia tersebut. Kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan menurut pandangan bangsa Indonesia itu kalau kita telusuri penyebabnya adalah: Pekerja-pekerja yang datang ke luar negeri itu memposisikan pada strata budak. Andainya yang datang ke luar negeri itu pribadi-pribadi terdidik berktrampilan tinggi, seperti yang pernah terjadi pada tahun 70-an/ 80- an, maka mereka akan diposisikan sebagai tuan. Memang sifat/jiwa budak yang tertanam belum hilang sepenuhnya, lantas punya kesempatan menjadi tuan, maka perlakuan /kelakuan mereka menjadi seperti tuan yang berhak memperbudak orang lain.

Karenanya, mari kita sikapi bersama dengan meletakkan program fakku roqobah, membebaskan perbudakan dengan menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya di dalam negeri, dan memperluas kesempatan pendidikan, sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang trampil dalam hidup dan cerdas dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.
Kedua, memberi makan pada hari kelaparan. Hari-hari/ bulan –bulan lapar di Indonesia sangat jelas dapat dibaca dan disimak bila saja perhatian diarahkan secara serius. Bulan-bulan lapar biasanyanya disebabkan oleh musim kering, tidak tersedia air untuk kepentingan pertanian. Atau sebaliknya, karena kebanyakan air, karena banjir. Bulan-bulan itu biasanya bermula dari bulan Agustus- Januari. Agustus musim kering, tak dapat betanam pangan dan bulan Januari kebanyakan air. Kejadian-kejadian itu pasti datang, namun semuanya hanya dikeluhkan bukan dibuat solusi penyelamatan.

Lagi-lagi penangggulangannya selalu jangka pendek,berupa bantuan pangan, maupun uang tunai, sesuatu yang tidak dapat menyelesaikan dan memilimalisasi penyebab kelaparan yang berjangka panjang.
Semestinya segala dana yang ada diperuntukkan bagi pembangunan pengairan/irigasi yang dapat mendatangkan air, dan menciptakan penampungan air yang dapat menanggulangi banjir yang mematikan. Orang yang lapar bila diberi bantuan uang maupun beras, mereka memang senang, tapi kelaparan akan terulangi lagi, sebab beras terbatas dan uang habis. Sedangkan penyebab kelaparan masih tetap tidak ditanggulangi berulang setiap tahun.

Ketiga, memberi makan anak yatim yang mempunyai kerabat. Anak yatim yang berkerabat, secara harfiyah yatim adalah anak yang telah ditinggal wafat oleh orang tuanya. Secara harfiyah pula mereka itulah yang berhak mendapatkan pertolongan.
Namnu dalam arti luas yatim itu dapat diartikan orang yang tidak berilmu dan tidak beradab. Maka ditinjau dari pengertian ini bangsa Indonesia masih yatim piatu (tidak berpendidikan yang mumpuni dan masih memerlukan pendidikan moral dan peradaban) sungguh masih banyak. Maka, insya Allah tidak salah jika jaarn Ilahi ini kita maknai dengan membuka seluas-luasnya kesempatan pendidikan yang untuk mereka. Lagi-lagi pendidikan sangat memegang peranan penting untuk semua itu.

Keempat, mengentaskan orang miskin yang sangat fakir. Pengentasan kemiskinan suatu usaha mulia, dimulai dari pembangunan pendidikan dan ekonomi. Intinya kelompok miskin (yang fakir) itu banyak tersebar di pedesaan, maka mengentaskan kemiskinan itu sangat identik dengan pembangunan pedesaan. Sangat dirasakan, betapa terbatasnya faslitas untuk menjadi tidak miskin yang ada di pedesaan secara kebanyakan.

Petani mungkin dapat memproduksi komoditas pertanian dengan baik, namun tatkala itu dapat ditempuh, kemudian mereka terhambat oleh infrastruktur ysng tidak terjamin, kemampuan jual yang tidak menguntungkan dan tidak lain-lain sebab yang teatp mengakibatkan mereka tidak terhindar dari kemiskinan. Karenanya membangun pedesaan merupakan program besar yang dapat menjembatani usaha pengentasan kemiskinan. Program-program seperti ini menurut ajaran Ilahi merupakan program mendaki yang memang berat namun beratnya harus ditempuh, dan kativitas tersebut merupakan aktivitas yang berjangka panjang, tidak serta merta dapat dirasakan, namun pasti berakibat mengangkat martabat harkat manusia dan kemanusiaan intinya, semua itu adalah pembangunan pendidikan dan ekonomi atau sebaliknya.

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

One thought on “Membangun Diri

  1. Hallo teman-teman yang punya backlink tentang kurikulum pertanian bisa share disini😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s