Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

buku1

Smart Diary 2

Tinggalkan komentar


 

buku1

buku1

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(Q.S. At_tiin {95}:4)

Nah setelah kamu menuliskan semua kelebihan kamu dan mensyukurinya, kamu juga perlu tahu apa semua kekurangan kamu. Bukannya untuk melemahkan hatimu, tapi supaya kamu lebih terpacu lagi untuk meminimalisasi kekuranganmu itu. Tidak ada manusia yang sempurna friends! Kekurangan-kekurangan itu mengingatkan kita supaya nggak boleh sombong. Yang jelas kamu malah bisa menjadikan semua kekuranganmu itu sebagai motivator kamu untuk lebih maju lagi.

Yach, walau kadang perasaan rendah diri sering muncul, it’s okey. Kamu boleh kok rendah diri, tapi hanya di hadapan Allah. Justru dengan kerendahdirianmu, ketidakberdayaanmu dihadapan Allah kamu jadi merasa bergantung sama Allah. Baguslah, daripada bergantungnya ke orang lain, ya nggak?

Kalo kamu merasa kekuranganmu lebih banyak dari pada kelebihanmu justru di situ Allah menantangmu. Bisa nggak kamu menjadi yang terbaik meski kekuranganmu itu banyak? Kalo kamu merasa sedih banget dengan kekurangan-kekuranganmu itu. Sebenarnya kamu diundang Allah untuk bisa bermesraan dengan-Nya. Belum tentu kalo kamu punya banyak kelebihan dan sedikit kekurangan kamunya dekat kepada Allah. Karena Ketergantungan kamu itu, Allah malah tambah sayang ke kamu dan Dia bisa aja memberikan rahmat kepadamu. Banyak deh kisah orang-orang yang punya kekurangan, tapi bisa hidup mulia di dunia ini. Sekarang nih, ada satu kisah yang bisa bikin kamu nggak seberapa dengan kekurangan-kekurangan yang dimiliki orang lain.

Dia adalah Stephen Hawking. Sampai usia 20 tahun, Stephen Hawking hidup normal. Dia menjalani pendidikannya seperti kamu-kamu juga. Sayangnya, dia sangat pemalas. Tapi malasnya, karena dia kurang puas aja dengan pembelajaran yang ada di sekolah bukan karena benar-benar malas. Malah dia sangat cerdas. Dia nggak pernah percaya dengan buku-buku pelajaran yang ada pada waktu itu. Malah dia dengan gamblang menyebutkan kesalahan-kesalahan dari buku tersebut tentunya sesuai dengan pengetahuan yang udah dia dapat. Dalam hatinya terukir sebuah tekad untuk mengungkapkan pertanyaan yang mengganggu pikirannya, yaitu dari mana datangnya alam semesta. Karena itu dia bercita-cita ingin masuk ke Universitas Cambridge. Untungnya, meski dikenal orang-orang pemalas, jawaban-jawaban cerdasnya ketika mengikuti ujian justru mengesankan para pengujinya sehingga dia dinobatkan sebagai juara pertama dan bisa dapat beasiswa ke kampus dambaannya. Cuma pada awal usianya yang ke-20 tahun, dia mengalami sesuatu yang aneh. Dia sering merasakan tubuhnya kaku seketika bahkan untuk menuangkan gela pun dia sangat kesulitan muali dari situlah penderitaannya.
Stephen Hawking harus menderita seumur hiduonya karena sebuah penyakit. Dia mengalami kelainan Scoliosis, yaitu mengerasnya jaringan tubuh. Belakangan ternyata dia mengidap kelainan yang benar-benar langka dan tidak bisa disembunyikan. Kelainan itu disebut Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) atau penyakit saraf penggerak. Yang mengalami penyakit ini sedikit demi sedikit tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya sampai lumpuh total dan akhirnya mati lemas atau mengalami radang paru-paru akibat pengerutan otot pernapasan.

Usia stephen divonis dokter hanya tinggal dua tahun lagi. Awalnya dia frustasi. Tapi, siapa yang tahu kehendak Allah. Stephen bisa hidup lebih dari usia yang udah divonis dokter. Dia masih bisa hidup dengan berbagai macam keberuntungan. Keberuntungannya yang pertama adalah seornag istri yang selalu menyemangatinya. Meski keadaannya semakin hari semakin lemah. Keberuntungan yang lain adalah, penyakitnya itu nggak memengaruhi otaknya. Dia masih bisa belajar bahkan mengambil program doktor.

Hari demi hari tubuhnya benar benar tidak bisa diajak kompromi. Dia semakin kurus kering, kacamatanya semakin tebal dan kepalanya semakin sulit untuk ditegakkan. Tapi penderitaannya itu tak menyurutkan perjuangannya untuk selalu belajar dan belajar. Dia dikenal sebagai mahasiswa paling kritis. Dia pernah mementahkan teori baru yang disebut Teori Big Bang dari seorang astronom bernama Fred Hoyle dengan bukti- bukti yang membuat si pengungkap teori menjadi bungkam seribu bahasa. Dia juga mementahkan teori lubnag hitam yang muncul bersama lahirnya alam semesta, yang dulu dia teliti bersama temannya, Roger Penrose. Dia menyatakan teori itu adalah keliru.
Meski kariernya menanjak tidak diikuti dengan menanjaknya kondisi tubuhnya. Tubuhnya lumpuh total. Dai juga semakin sulit bicara. Awalnya orang-orang tidak mengerti dengan ucapannya, tapi kemudian telah terbiasa. Karunia Tuhan juga, ternyata otaknya masih utuh dan bisa berfikir dengan cerdas, ketika salah seorang sekretarisnya membacakan hasil karya tulis Hawking yang diketiknya, Hawking masih bisa menunjukkan bahwa ada kesalahan di sana. Padahal, karya tulus yang didiktekan sang sekretaris berjumlah 40 halaman dan Hawking bisa mengingatnya di luar kepala.

Hawking tetap berkarya dan berkarya bahkan menghasilkan sebuah buku yang berjudul From The Big Bang To Black Hole yang terjual 40 ribu kopi. Sayangnya, kesuksesannya itu semakin terhambat oleh kondisi kesehatannya. Dia mengalami penyumbatan di saluran pernapasan dan membuatnya harus dioperasi. Konsekuensi dari operasi itu menyebabkan dia tak bisa bicara lagi sepanjang hidupnya. Tapi, Allah menghargai semangatnya yang ingin terus menerus menuntut ilmu, memecahkan msiteri-misteri alam ciptaan-Nya yang tersebar di mana-mana. Ada seorang ahli komputer bernama Waltz Woltosz yang melakukan eksperimen demi menolong Hawking. Akhirnya dia menemukan sebuah komputer dengan program khusus yang berisi 3.000 kata terpilih yang dapat membantu Hawking untuk ”berbicara”.

Setelah kalimat demi kalimat tersusun dalam layar komputer, dengan otomatis akan terhubung ke pengeras suara yang dipasang di komputer tersebut. Meski tak terlalu senang dengan penemuannya ini karena bergaya Amerika, smeentara Hawking orang Inggris, Hawking tetap menerimanya. Dia tetap menjalankan aktivitasnya mengajar dan membeberkan banyak ilmu hasil penelitiannya.

Tahu nggak? Dengan kekurangannya yang sangat luar bisa itu, dia justru tak merasa rendah diri di hadapan manusia. Setelah menikmati hidupnya dan bersahabat dengan kekurangannya itu, dia malah semakin bersyukur. Ketika ditanya bagaimana perasaannya mengalami penderitaan seperti ini, Hawking malah menjawabnya dengan enteng. ”Saya tak harus memberikan kuliah seperti lazimnya. Dengan demikian, saya punya banyak waktu untuk memeikirkan fisika dan alam semesta”. Di majalah Omni, dia justru mengatakan bahwa penyakitnya itu justru meningkatkan semangat hidupnya.
Dia bisa menjadi hebat dengan penemuan-penemuannya meski baru berusia 32 tahun katanya. ”Saya lebih bahagia ketika lumpuh. Sebelumnya saya begitu bosan melihat dunia ini dan saya sedkit jadi peminum. Saya waktu itu merasa tak akan melakukan apa pun…” Hawking justru merasakan lumpuhnya itu merupakan anugerah Tuhan yang membuatnya kembali ke titik nol. ”Ketika orang ditarik ke titik nol, ketika itu dai justru merasakan yang masih bisa dimilikinya, apa pun itu,” ujar Hawking.

Meski kemudian, istrinya mulai tidak sabar dengan keadaan fisik Hawking yang semakin membuatnya kerepotan, itu tak membuat Hawking kehilangan semangatnya. Dia nggak peduli, dia udah bisa mandiri dengan penghasilannya dari buku-bukunya. Kalo tak ada istri yang merawatnya, dia masih bisa membayar perawat dan sekretaris pribadi (dirangkum dari cerita yang dimuat majalah Tempo dalam rubrik ”Selingan”, 26 Desember 1992)

Subhanallah. Maha suci Allah. So, tidak ada alasan lagi kamu minder dengan kekurangan-kekuranganmu. Sekalinya hatimu pilu memikirkan kekurangan-kekurangan yang ada padamu, ingatlah kisah ini. Banyak hikmah yang bisa dipetik. Kamu bisa bayangin nggak penderitaan Bapak Hawkng ini? Udah gitu, dia masih bisa bersyukur dengan keadaannya itu. Dan, dia juga nggak pernah mencaci maki Tuhannya. Kamu ingat Teh Mimin, seornag ustadzah asal Bandung? Meski kakinya lumpuh dan harus berjalan dengan tongkatnya untuk menyangga kakinya dan tubuhnya yang cukup gemuk, tak pernah memyurutkan semangatnya untuk tetap berdakwah. Semangatnya selalu terasa di hati kita yang mendengarkan ceramah-ceramahnya. Kamu juga tahu Gisca kan? Salah seorang putri dari artis kenamaan Dewi Yull? Seorang remaja yang bisu, tapi tetap bisa berkarya dengan lukisan-lukisannya yang indah. Ingat Albert einstein kan, yang nggak bisa bicara sampai umur 3 tahun dan nggak bisa baca sampai umur 7 tahun? Tapi dia malah bisa jadi ilmuwan yang hebat.
Nggak usah jauh-jauh deh lihat tuh Nabi kita Muhammad Saw. Yang oke banget. Meskipun ummi alias nggak bisa baca atau buta huruf yang menurut saya ummi disini bukan sebenar-benarnya buta huruf nggak bisa membaca tapi nggak bisa baca kondisi bagaimana jahiliyahnya tempat itu dan nggak tahu bagaimana harus mengatasi kondisi jahiliyahnya itu hingga turun wahyu dari Allah dan dia bisa menjadi orang yang hampir mendekati sempurna. Yang namanya harum sampai sekarang. Islam jadi besar kan karena perjuangan beliau. Kita bisa jadi umat yang ternaik karena teladan dari beliau kan? Makanya jangan malu-maluin dong. Kamu punya kekurang itu biasa, Nabi Muhammas Saw, yang nyata-nyata seornag Rasul aja masih punya kekurangan, masa kita yang manusia biasa mau sempurna? Nggak mungkiiin… So, masihkah kita mencaci maki diri kita? Masihkah kita menghinakan diri kita terhadap kekurangan-kekurangan yang ada?

Semangatlah, Friends! Jangan takut untuk mengakui kekuranga-kekuranganmu. Karena kalo kamu udah tahu semua kekuranganmu itu, kamu bisa lebih waspada dalam melangkah menuju cita-citamu. Yang pasti, kamu bisa meminimalisasinya dengan mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang udah kamu punya tadi. Oke?

Penulis: Ashri

Simpel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s