Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Semur Jengkol

1 Komentar


Hohoooo…what semur jengkol is???

Pastiiii yang mengaku orang Indonesia, kenal dengan  semur jengkol. Yaaa, setidaknya pernah dengar meski tak pernah mencicipi. Semur Jengkol, made in Indonesia  ini selalu hadir di rumah makan sekaliber warung tegal sampai restoran besar yang mengusung atribut kedaerahan, terutama restoran sunda. 

Bau??…itulah yang menjadi ciri khasnya jengkol. Meski diracik sedemikian rupa, tetaplah bau nya keluar. Digoreng, disemur, direndang, diurab,… baunya nggak hilang. Dan karena bau  itu, ada yang nggak suka, pura-pura nggak suka, sampai suka sekali. Tapi bagaimanapun reaksi orang-orang terhadapnya, ia tetap saja bau. Tidak pura-pura wangi agar disukai banyak orang.

Tidak berpura-pura wangi. Itu saya suka dari semur jengkol… diam-diam saya telah belajar dari semur jengkol agar tidak bersikap munafik. Menampilkan yang baik-baik, padahal di dalamnya menyimpan kebobrokan yang begitu memalukan.

Lalu…kenapa saya berandai-andai tentang seorang Abdullah bin Ubay bin salul yang menggigit semur jengkol???… Membayangkan, andai nenek moyang orang munafik itu mencicipi semur jengkol…lalu menyadari kemunafikannya. Karena malu dengan semur jengkol yang selalu menampilkan apa yang sebenarnya. Meski diledekin bau tapi tetap disuka banyak orang. Sayang,… Zaman Rasulullaah dulu tidak ada semur jengkol. hehe…pengandaian yang sangat ekstrim kali yaaa. Karena kembali ke masalah hidayah. Yang pada dasarnya si mamang Abdullah bin Ubay ini enggan menerima hidayah dariNya. Bukan karena tidak mencicipi semur jengkol.

Karena gara-gara kepura-puraan si mang abdul ini dakwah Rasulullaah banyak terhambat. Dilanjut dengan kadernya yang menghembuskan kisah ifki hingga mahligai rumah tangga Rasulullah bersama Aisyah hampir karam. Hemmh…benar-benar karena sebuah kepura-puraan. Membungkus kebusukan dengan kata-kata semanis madu.

Sedangkan semur jengkol….tidak pernah menyembunyikan sifat bau nya. Meski dipotong kecil-kecil untuk menemani aneka tumisan, teteeeep saja kecium baunya. Bahkan saat dilumatkan untuk dibikin kerupuk sekalipun, tetep wae kecium jengkol nya. Jadi nggak bisa dibuat-buat, untuk tidak menyandang nama kerupuk jengkol.

Kalau mau diibaratkan, akan kejujurannya…ia setipe dengan durian. Baunya tak pernah pura-pura. Apalagi durian ini selain bau…juga berduri. Tapi dalamnya lunak dan halus. Bertentangan dengan kedondong yang setipe mang abdul bin ubay. Maka durian vs kedondong ini….menjadi kontradiksi abadi sepanjang sejarah kehidupan anak manusia. Lalu jengkol vs apa ya kira-kira??…

Yang jelas…si jengkol ini pasti nggak akan mau kalau harus digigit mang abdul yang bertentangan dengan watak dasar nya. Heuheuuu….pantas ngga ya kalau diabadikan, semur jengkol vs mang abdul bin salul??
Yang watak mang abdul ini jelas sekali tergambar dalam al-Qur’an surat 63 (al-munafiqun) ayat 4 :  yang artinya, ”Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar*. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh-musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran??

* mereka diumpamakan seperti kayu yang bersandar maksudnya untuk menyatakan sifat mereka yang jelek. Mereka berpenampilan bagus, pandai bicara…tapi sebenarnya otak mereka kosong. Tidak dapat memahami kebenaran.

~_~ …. Huhuuuu, maaf yaaa…kalo tulisan ini terkesan ekstrim dan nggak mutu,   Biar semur jengkol eksis ….hehhe

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

One thought on “Semur Jengkol

  1. Hidup Semur Jengkooool!!!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s