Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Kisah masa kecilku

Tinggalkan komentar


Aku lahir dari keluarga pedagang. Waktu kecil amenikmati main di antara lemari dan perabot rumah tangga lainnya seperti bupet, meja hias, sofa dan bangku yang masih harus diolah untuk di ukir, terus diampelas, diplitur, pasang aksesoris karet jok, dll. Sebuah toko furniture milik kakek (aku memanggilnya dengan sebutan kokong), tepatnya di klender.

Para pekerja itu pandai menghias dan meracik warna sesuai dengan pesanan dari banyak toko untuk dijual kembali kepada konsumen. Biasanya aku hanya melihat dan sesekali masuk ke lemari dan berlari kecil dari kaca ke kaca sambil memperhatikan banyak tamu yang datang. Yang pasti, senang lah..senang karena aku banyak bertemu teman kecil dari anak tamu yang datang. Aku tentu saja tidak cukup kenal dengan mereka, namun aku merasa jadi tuan rumah supaya mereka nyaman. Mereka sangat ramah, mudah akrab denganku untuk bermain karet atau makan es krim karena menunggu orangtuanya memilah perabot. Ehm, rumah kakekku selalu ramai dengan orang-orang, karena jaraknya bersebelahan jadi aku bisa mengetahuinya.

Aktivitas pagi dirumah biasanya ayah mengaji lalu membuat perencanaan bisnis yang harus dilakukan hari ini atau mengerjakan tugas kuliah hingga waktu Duha. Nah ulah aku saat itu adalah berakting menjadi ilmuwan cilik, kalau ayah mau lancar urusannya maka aku harus dipinjami buku dan alat tulis untuk mengukir namaku.. Hehe semua diktat ayah pasti ada namaku, aku usil kan

Menjelang siang aku keliling kampung dengan delman yang mangkal di bawah pohon jamblang. Terus lihat sapi dan kuda dikandang milik haji mayar.. penjaga kandang sangat apik dan rajin membersihkan kandang jadi sapi sehat itu memiliki kualitas susu murni terbaik yang cukup untuk bisa kita minum setiap pagi. Haji Mayar adalah salah satu sahabat terbaik kakekku, dia orang terpandang di Klender karena aku sering menghitung jumlah sapi dan kudanya selalu bertambah setiap tahun. Kata kakekku sapinya langsung dibeli dari New Zeland soalnya ada warna corak merah khas seperti di iklan susu bendera karena kakekku sangat pandai bercerita dan mendongeng jadi aku gak percaya hehehe

Jika sedang musim buah rambutan area bermainku berubah dibelakang rumah. Padahal belakang rumahku itu adalah kuburan alias TPU Klender tapi karena penjaga tamannya menyulap dengan indah seperti taman pohon cemara sehingga jadi pilihan bermain layang-layang karena angin kencangnya bagus. Persis disebelah kuburan itu ada pohon rambutan yang dahannya ranum menjoroh kebawah karena buah yang lebat, saat itu aku berfungsi mengambil rambutan sambil digendong pamanku bergantian. Sebelumnya aku izin dulu dengan pemiliknya, namanya Pak Haji Saniman, beliau adalah tetangga rumahku dan termasuk karib kakekku. Padahal beliau itu galaknya minta ampun apalagi pensiunan ABRI atau tentara yang punya pistol waktu penjajah Belanda tapi karena tidak punya anak perempuan jadi pak haji sangat baik denganku. Urusan perizinan untuk makan rambutan sepuasnya sambil main layang-layang itu keahlianku…

Setelah sholat maghrib, aku ikut mengaji dengan tanteku, aku memanggilnya encing ‘panggilan suku betawi tapi setelah ada panggilan lebih keren aku memanggilnya cici’. Aku mengaji dimushola Al-Hidayah dekat rumah yang gurunya aku panggil Abeh, dia adalah adik bungsu kakekku. Jaraknya 500 meter dari rumahku namun harus menyebrang lintasi aspal jalan raya di perempatan lampu merah Duren Sawit. Saat itu usiaku 3 tahun dan aku adalah murid paling kecil yang bisa mengaji terus langsung nonton kartun tanpa harus menunggu jam mengaji berakhir… hehe…. Abehku ini terkenal galak jadi setiap memulai pengajian dia punya alat khusus berupa rotan sepanjang satu meter yang fungsinya untuk memulai komando tadarus atau mengakhirinya. Bagi santri putra yang mau icip-icip rasanya disentuh rotan dengan kasus tidak jama’ah subuh dan maghrib atau salah membaca ayat.. deuh deuh syeremnya tapi itu jarang terjadi karena kharismatik Abeh.

Setiap musim panen aku tinggal di rumah nenekku di pamahan. Sebuah desa terpencil terpencar dan terpelosok di Desa Pebayuran Kabupaten Bekasi. Dari Jakarta jarak tempuhnya 150 KM jadi sama jauhnya dengan jarak tempuh menuju Bandung, hehehe…  Padahal liburan kerja ayah hanya sabtu dan minggu tapi karena aku betah jadi waktu berkunjung diperpanjang hingga satu bulan, jadi ayahku kembali ke klender tanpa aku. Pamahan adalah tempat keluarga Ayahku tinggal. Aku memanggil kakekku ini dengan sebutan Abah dan Emak.

Hal yang ku ingat adalah bahwa Abah dan Emak punya sawah dan kebun yang luas. Dari pohon jambu kelutuk, jambu merah, sampe jambu mede, pohon nangka, aneka mangga, pohon kelapa, pohon pete, pohon sirih, sirsak, srikaya, pisang, pepaya, dan aneka bunga hias.

Didepan rumah mereka ada kolam ikan besar (balong) tempat favorit buat aku dan para sepupuku untuk ngojay (renang) setelah memetik jambu dimusim penghujan.. padahal kampung Pamahan diapit oleh dua aliran sungai dari sungai citarum dan aliran sungai buatan “irigasi’ sawah tapi tetep weih aku gak bisa ngojay kecuali gaya batu.. hehe

Bersambung di episode cerita di bangku sekolah.. Sampai cerita berikutnya….!

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s