Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Cerita di Bangku Sekolah

2 Komentar


Pengalaman pertamaku sekolah di TK Harapan Nusa. Kepala TK Ibu Ali Akbar namanya. TK terdekat dari rumahku. Kesan pertama dihari pertama masuk, namaku di golongkan dengan jenis kelamin laki-laki padahal kupingku beranting dan walaupun rambut tipis seadanya ibuku sudah menguncir setengah dengan aksesoris penjepit biru senada dengan warna sepatu kets. Nah dari kesan itu, aku gak mau berangkat sebelum rambut lurusku dan hitam dikepang atau dihias dengan aksesoris tak lupa pake minyak wangi..😀 soalnya kalo anak cowok udah siang sedikit biasanya bau keringat sedang aku adalah seorang putri wangi setiap saat walaupun macho dan berani…. Di kelas TK B ada anak lelaki yang hobi usil membuat nangis anak perempuan, dengan merebut alat tulis, penghapus, atau menumpahkan air dengan sengaja.. hehehe tapi kalo sama aku dia gak berani!🙂

Aku bisa beradaptasi dengan cepat jadi di cawu 1 aku sakit 2 minggu tapi di cawu 2 bisa eksis diperingkat 3 besar. Sepulang sekolah aku biasa bernyanyi diatas pagar rumah sambil pegang gagang sapu ijuk dengan mengeluarkan suara terbaik yang aku miliki untuk lagu orang dewasa yang sedang hits ketika itu. Hehehe… latihan jadi Finalis Idol Cilik.🙄 Aku paling suka main balok warna, tidak hanya itu menanjak dilintasan susunan balok kayu jati juga jadi pilihanku setelah pulang TK hingga SD. Biasanya eNci -panggilan Ibu suku cina-  yang baik hati pemilik kayu jati gelondongan itu memberiku kapur warna dan uang rupiah yang masih wangi, sesekali kaset cerita dan buku bacaan yang bagus sekali gambarnya sebagai hadiah kalau aku bisa menyanyi sampai habis syair. Jadi aku bisa menulis dan menggambar matahari sesukaku dengan kapur warna di tembok pojok rumah yang disulap jadi papan tulis tak beralas sambil mendengarkan kaset cerita putri salju.

Kebiasaan nyanyiku terus berlanjut kalau harus berjalan jauh dan mendapati jalan macet tak bergerak, hal ini terjadi dalam perjalanan menuju rumah Abah dan Emak. Suara lepas bocah cilik dengan syair orang dewasa dilantunkan dengan percaya diri dan ikhlas menghibur tanpa dosa. Sambil menghitung jumlah mobil diluar… otomatis mengundang perhatian orang dewasa disekelilingnya yang satu mobil. Komentar mereka, “wah bagus banget suaranya, PD banget yach, cerdik buat mengalihkan kebosanan menunggu macet” tapi aku dengan wajah tanpa dosa tetap bernyanyi hingga syair penghabisan, hehehe mulai dari koleksi lagu artis cilik Topi Saya Bundar, dll hingga kisah kasih disekolah Obie Messakh dan Yang Hujan Turun Lagi.

Terus……..

Aku sekolah di SDN dan Madrasah.  Pagi hari aku ke sekolah, siang sampai sore hari aku di Madrasah  Azziyadah.

SDN 07 letaknya di Kp. Pertanian Selatan, sekitar 5-10 menit jalan dari rumah. Iibu PKK sangat aktif dengan kegiatan penghijauan, jadi sepanjang jalan aku menuju sekolah kanan kiri jalan dihiasi dengan pohon gantung dan tanaman hias mawar, melati, kembang sepatu, kenanga, sedap malam, anggrek bulan, asoka dan lainnya. Belakang sekolahku ada Taman Sehat milik bu RW samping Puskesmas.

Ritual pagi sebelum berangkat sekolah aku diantar menyeberang jalan raya depan rumah lalu salim dan ayah mencium ubun-ubunku diiringi dengan do’a..

Aku ingat jajanku 100 perak kalo sekolah, setiap naik kelas uang jajannya naik perseratus. Kalo berangkat ke madrasah aku langganan naik becak, hehehe angkutan favorit aku tuh.. sambil nyanyi lagu “becak-becak jalan hati-hati” karena memang jaraknya lumayan jauh tapi kalo naik becak hanya bayar seratus rupiah. Sedang pulangnya biasa jalan kaki lewat gang setapak bergerombol dengan teman.

Waktu istirahat disekolah madrasah sangat panjang lebih dari setengah jam, jadi cukup waktu buat jajan dan bermain sambil menunggu jam’ah sholat ashar. Permainan favorit kami adalah sempreng, –karet gelang yang dironce lalu diayunkan oleh dua orang dan kita melompat ditengahnya secara bergantian—mirip lompat tali. Area bermain dibawah mesjid Al-Husna Azziyadah.

Setahuku waktu kecil itu adalah mesjid terbesar, dengan 4 lantai dan 4 menara tinggi yang berfungsi untuk menara air dan tower speaker muazin. Sekeliling masjid terbuka dibatasi dengan pintu kaca jadi mirip akuarium karena kita bisa melihat keadaan lapangan diluar masjid. Biasanya yang menjadi Imam adalah Abuya Zayadi Muhajir, dengan khas baju gamis putih dan sorban. Abuya sangat kasih dan sayang dengan anak yatim jadi setiap anak yatim yang sekolah di madrasah dibebaskan biaya malah difasilitasi uang jajan dan buku. Santri abuya yang menghafal Al Qur’an juga banyak tapi khusus putra. Sampai sekarang madrasah Azziyadah masih eksis, dan Abuya sudah meninggal tahun 1993. kisah tentang Abuya akan aku tulis di tema berbeda lain waktu ya.. cukup sekian ceritaku dibangku sekolah. setelah lulus SD dan MI aku melanjutkan ke pesantren. Terima kasih sudah membaca tulisanku… Salam

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

2 thoughts on “Cerita di Bangku Sekolah

  1. Hmmmm…dulu gw juga mantan dari situ dengan status Gagal…he he he he…cuma dua tahun mondok di situ……Tsanawiyah gw di situ tahon 1987 an deeeh kalo gak salah…….. Almarhum KH. Zayadi Muhajir itu kenal dekat dengan almarhum kakek saya…..dah lama belum ziarah ke sana saya…..wassalam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s