Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Titip Rindu Buat Ayah

2 Komentar


Titip Rindu Buat Ayah

Tingginya 172 cm dengan Berat Badan 69 Kg lumayan ideal bagi ukuran pria usia 48 tahun. Setidaknya itulah yang kuingat sebelum dia bersalam pisah pada hari sabtu, 28 September 2002! Bentuk wajah yang bulat mata besar hidung tinggi bentuk bunga jambu dengan bibir belah berhias senyum simetris. Kulit bersih, dahi lebar rambut hitam lurus yang tumbuh disetengah kepala mirip perawakan Profile Profesor  :)🙂

Sarapan pagi dengan tape dan pisang goreng ditemani seruput teh panas tanpa gula soalnya senyum ayah sudah manis😉.. Buah favoritnya mangga dari yang mentah dibuat manisan, yang mengkel dibuat lalap, yang mateng dibuat cuci mulut.  Nah menu favoritnya sayur asem, udang goreng pake sambal kecap tapi apapun resepnya pasti ayah sangat lahap karena masakan ibu dijamin lezat!

Dia adalah ayah terbaik yang kumiliki. Aku belajar banyak tentang kehidupan darinya. Ayah Sang Juara Nomor 1 di Dunia. 

Nama panggilannya ujang, lahir di bekasi 25 Desember 1955. anak ke-4 sebagai lelaki pertama dari 6 bersaudara. Ayah putra kesayangan emak jadi banyak doa dan yang emak munajat untuk kesuksesan dia. Ketika emak melahirkan ayah, abah jadi sekdes dan hidup berkecukupan namun ayah bukan anak manja. Dia selalu berfikir ingin maju. Dari cerita ibu, ayah sekolah SMEA sambil jadi kenek angkot mikrolet. Wataknya sabar, ulet, telaten, dan pekerja keras. Hal ini membuka kepercayaan tinggi bagi pemilik mobil mikrolet untuk angkotnya dia bawa. Ayah berangkat pagi jam 5 sampe jam 11 untuk menyupir tarikan umum lalu siang berangkat sekolah. Hubungan baik ayah mengikat emosi kasih sayang seperti anak angkat, jadi ada 2 keluarga dominan yang membentuk karakter ayah. Dia belajar bisnis dari bapak angkatnya.

Nah karena sejak usia belasan sudah tinggal dijakarta hubungan ayah dengan saudaranya sangat harmonis dan ayah masih jadi anak kesayangan. Para uwa, mamang dan bibiku pun jadi sangat sayang padaku. Ada peristiwa yang masih ku ingat. “setiap aku, ayah dan bunda silaturahim ke orangtua ayah, aku pasti antusias menyiapkan oleh-oleh untuk dibawa tapi setelah tiba di daun pintu aku keukeuh gak mau masuk keruang tamu hanya bertahan diteras. Hal itu lantaran mimih –panggilan aku ke nenek angkat—pake ikat kepala warna hitam dan balsem karena memang sedang nyeri kepala. Walhasil acaranya ga lama karena aku tidak mau diam malahan merengek nangis minta pulang.. Usiaku masih 3 tahun, itu aku ingat karena aku belum punya adik. Sekarang aku tau kalo itu adalah bentuk komunikasi indra perasaku yang ikut merasakan sakit saat aku menjenguk orang sakit. Dengan pengalihan emosi, aku sudah bisa menyimpan rasa sakit itu sebagai rasa orang lain. Maksudnya jadi gak berlebihan gitu, hingga usiaku 20 tahun aku sering ikut sakit setelah menjenguk orang sakit..😀😀

Ayahku punya banyak kawan dan sosialisasinya sangat bagus. Aku ingat setiap akhir pekan atau hari libur ada tamu dan rumah kami ramai pengunjung. Biasanya aku mojok dibelakang pintu mengamati apa yang terjadi sambil membaca buku atau main bola bekel, dan congklak. Hohoho..  Musim berganti waktu berlalu. Perlahan aku beranjak tumbuh meremaja. Kata teman ayah, wajah ibunda dan ayah itu mirip adik dan kaka. Jadi pantas saja kalau wajah anak mereka mirip semua.

Ayahku pedagang,  sejak aku kelas 2 SD ada toko buku dan kafe yang dikelola ayah didepan rumah. Memang yang menjaga ibu dan kebiasaanku mengajak teman-teman berkunjung ke kafe setelah pulang SD untuk beli ES sambil aku pesan ke mereka kalau perlu ATK silahkan order denganku saja, hehehe…Pada tahun 1995, aku kelas 2 MTs ayah membuka usaha bisnis percetakan. Sadar berinovasi dan berorientasi ke depan untuk terus maju, ini yang paling khas darinya, cara memujiku untuk menyemangati setiap hal yang kuminati. “wach nasi gorengmu emang yang paling enak” itu pertama aku belajar memasak ketika usiaku 9 tahun kelas 4 SD.. karena pujian itu aku jadi rajin menyiapkan sarapan pagi,🙂  🙂 tapi hingga kini aku masih nyerah masak sayur asem dijamin aneh deh rasanya.

Oh ya setiap ambil raport ayahku punya hadiah berupa pesan dari langit hehe maksudnya pujian tulus seorang guru untuk mendoakan muridnya: “Kamu anak pandai. Suatu hari kelak kamu akan berhasil. Kalimat itu mengalir tulus, dari lidah ayah dengan kepandaianmu mengarang nanti besar kamu bisa jadi pengarang atau wartawan!” Jujur dengan mata berkaca aku mengamini harapan itu

Ketika aku nyantri di Hamidiyah, ayah mengajak aku bincang banyak tentang proses pembelajaran dan serba-serbi kehidupan nyantri diwarung padang. Menu pilihan lemparu, ayam bakar, atau pindang kepala kakap, nasi putih hangat disiram bumbu rendang, sambal ijo, lengkap dengan lalap daun singkong dan minum jus jeruk. Ritual makan bersama itu merekatkan kedekatan emosi. Pada jemputan liburan kita naik KRL Depok-Tebet pastinya saksi sejarah itu ikut merasakan kenangan terindah yang kugores.. Pulang liburan, sebelum kembali ke pondok ayah memberiku sebuah notebook mirip buku agenda yang lumayan tebal sekitar 500 lembar, dari situ mimpi dimulai.. setelah lembar terakhir penuh kugores lalu aku bawa pulang dan menjadi koleksi pajangan yang ternyata dibaca khatam oleh ayahku sambil diiringi komentar yang menawan.. lucu aja dari sendal jepit yang kesekian kalinya hilang, jadi muhadir pertama, pembawa acara di upacara gabungan, sampe aktingku untuk berpura-pura sakit karena belum hafal Nazhom Imrithi dan  ketinggalan ikut jama’ah sholat minta turun hujan (Istisqo) karena tertidur, dll semua apik kutulis menjadi sebuah cerita.

Aku ingat ketika ayah datang menjenguk ke asrama. Aku masih kelas 6 MAK. Minggu sore setelah sholat maghrib, ayah duduk diteras masjid menunggu kedatanganku. Aku duduk menghampiri ayah sambil tersenyum membawa raport. Ada 2 raport yang ku pegang: raport akademik dan rapot pesantren.

Dengan bangga aku menunjukkan bahwa nilai raportku cukup terbilang memuaskan. Aku mendapat peringkat I dalam 2 gelar sekaligus. Aku juga bilang ke ayah bahwa pada saat itu aku resmi masuk kelas tahfidzul qur’an –santri yang belajar khusus menghafal qur’an— Ayah langsung mengecup keningku, beri selamat dan berkata: Terus Semangat!! Tetap jadi kebanggaan ayah!! Materi yang berlimpah tidak pernah bisa ayah berikan tapi dengan ilmu yang manfaat kelak akan membawamu hidup lebih layak dan pastinya bisa menjadi orang hebat. Jangan pernah lelah untuk belajar, baca buku, dan jadi anak yang sholeh. Ayah selalu berdoa semoga kelak anak-anak ayah akan sukses!!

Masa lalu memang tidak mudah dihapus dari ingatan. Kadang masa lalu tersebut bersembunyi dibalik alam bawah sadar kita, kemudian menyeruak ke permukaan pada saat-saat tertentu.

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

2 thoughts on “Titip Rindu Buat Ayah

  1. baru tahu, ternyata kawanku ini pandai merangkai kata….

  2. Tulisan ini merupakan obat penawar rindu segores tinta dalam benak garis wajahnya yang menguat menggugah hati..
    mohon maafkan jika yang membaca cerita ini terkesan megalomania, riya, takabbur atau membanggakan kebanggaan masa lalu namun tahaddust binni’mah atas kebaikan yang telah mengalir.

    gaya tulisan yang saya harapkan bukan sekedar mencontoh konsep dari blog teman yang nyata menginspirasikan saya membuat alur yang sama. Tetap semua ada kadar uniknya😉
    Salam!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s