Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Al Fatih ku

1 Komentar


Al Fatih merupakan sekolah elit yang memberi dampak luar biasa untuk karya studiku di pendidikan dengan segala harapan dan kenyataan.  Harapan menjadi pencetak generasi robbani, harapan akan adanya wadah bagi pergerakan dakwah dan harapan akan tumbuh suburnya dakwah islam. Kenyataan sorotan, kritikan yang kadang membangun secara proporsional….

Sekian beban telah berada di pundak kami dengan segenap keyakinan bahwa beban adalah amanah hingga kami tak lagi menganggapnya sebagai beban tapi amanah yang harus di emban dan dituntaskan segala macam dan bentuk pekerjaan dan urusannya.

Amanah besar dalam mendidik umat, amanah yang membuat kami berkumpul dari beragam daerah dan kafa’ah, beragam karakter dan sifat, beragam latar belakang civitas akademika juga mustawa kami.

Sekian permasalahan telah menumpuk menunggu untuk dituntaskan dan dicari akar masalahnya. Menghilangkan segala prasangka dan tidak mencari siapa yang salah, menjauhkan diri dari ghibah dan naminah. Satu persatu coba diuraikan agar tidak menjadi benang kusut dan malah berdampak pada kinerja juga lebih fatal lagi pada anak-anak didik kami. Harapan mungkin tinggal harapan…datang mengajar dengan segala kreativitas, semangat, keceriaan, tanpa memikirkan masalah-masalah yang menggunung tapi masih banyak dari kami yang meniti harapannya termasuk aku yang bila berada diantara anak-anak lebur sudah semua keluh kesah yang ada adalah aku mencintai anak-anak ini aku ingin melihat mereka tumbuh berproses dan menjadi investasi dunia akhirat.

Begitu banyak hal yang harus ditanggani membuat aku lupa..sekedar menuliskan perkembangan dan kejadian-kejadian di sekolah dan sekeliling kami,apalagi melaporkan alih-alih menelpon yayasan…aku sedang berjaga…menumbuhkan semangat ukhuwah diantara kami, menularkan semangat pada teman-teman yang kadang surut, menjembatani komunikasi yang terhambat antara guru akhwat dan ikhwannya. Membenahi kondisi tarbiyah mereka yang mulai mengendur….belum pula memikirkan dakwah ammah pada orang tua anak-anak didik dan masyarakat…aku sadari kealpaan diri mungkin ada yang gemas..melihat aku guru disana tapi tidak terlihat gaungnya…wallahu’alam biarlah Allah Swt yang melihat dan menilai kerja kita.

Sejauh ini…Al Fatihku….

Anak-anak karakter qurrata a’yun…tingkah polah merenah yang siap diukir sungguh subhanallah ciptaan-Nya. Yang harus ada bagaimana terus berusaha memproses mereka dengan segenap jiwa. Kalaupun ada yang ragamnya itu hal yang normal dalam kehidupan sekolah..maka itulah guna ada psikolog. Itulah dinamika…itulah kenangan kita dalam mengajar yang sebelumnya menjadi ujian bagi kita para guru hingga makin teruji makin bersinar ia karena berhasil melalui ujian demi ujian.

Anak-anak kelas 1 di semua kelas punya anak bermasalah semua rata. Ada Iqbal di kelas 1A yang masya Allah…ada Rio di 1B yang selalu takut ke sekolah dan minta ditunggui ibunya..sampai orangtuanya mengambil  langkah syirik dengan  pergi ke ‘orang pintar’, ada Ova di 1C yang permasalahannya sama dengan Rio tapi orang tuanya lebih bagus mengambil langkah, ada  Rajesh yang dari segi usia bukan lagi tempatnya di kelas 1 tapi dari kemampuan Rajesh belum bisa membaca, maka timbulah berbagai masalah di kelas 1D (ayah Rajesh terkenal keras mendidik anaknya).

Anak-anak kelas 2 yang satu persatu mengundurkan diri (baru 2) karena membandingkan dengan sekolah asalnya, guru kelas 2 yang kewalahan karena hanya sendiri dalam membina dan mendidik anak-anak yang masih dalam masa peralihan dari kelas 1.

Anak-anak kelas 3 dan 4 yang tiap pekannya harus ditinggal gurunya dalam beberapa saat karena wali kelasnya ada jam mengajar juga di kelas SMP, sehingga wajar timbul riak riak emosi

Anak SMP yang kurang memiliki semangat kompetitif karena hanya melihat satu kelas saja sebagai saingannya bahkan tidak menyadari banyak anak-anak sebaya mereka di sekolah-sekolah lainnya yang lebih berdinamika . Anak-anak yang malang…karena waktu awal mereka masuk besar harapan mereka ingin menggali ilmu Islam lebih banyak di Al-Fatih ternyata mesti harus banyak bersabar semua perangkat keorganisasian dan sebagainya juga mentoring belum berjalan semestinya. Anak-anakku yang beranjak remaja…tapi masih sering berkelakuan sama dengan adik-adiknya yang di SD. Anak-anak yang tidak mendapat porsi perhatian untuk bisa curhat, diskusi, berkarya, berlatih konsep diri, dan sebagainya karena di kurikulum belum ada jadwal BP/BK …padahal aku sangat ingin masuk untuk berbagi dengan  mereka.

Alla kulli hal alhamdulillah …banyak saudaraku jadinya….kami mencoba berbenah dan bangkit dengan semangat dukungan orang-orang yang berempati.

Dan yang luar biasa penelitianku tentang kurikulum pembelajaran metode kontekstual –CTL- di Al-Fatih berhasil dan mendapat nilai A+  menurut dosen penguji, terharu karena harga pengalamanya begitu indah dari sekedar manfaat tarbiyah dzatiyah menuntut ilmu.

Saat ini baru bisa aku tuliskan ini, jauh dilubuk hati sekian banyak hal ingin ditulis tapi Allah yang Maha memberi kekuatan dan kesempatan…insya Allah lain waktu..biidznillah.

Tertulis dari buku harian sahabat yang berkenan untuk berbagi tentang pendidikan

Al Fatih Graha Gardenia, 21 September 2005

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

One thought on “Al Fatih ku

  1. i see what you did there

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s