Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Rindu Ayah

1 Komentar


Aku belajar bahwa pria pendiam sesungguhnya memiliki rasa kasih sayang yang jauh berlebih dibanding pria sok ngatur yang merepet saja mulutnya. Senyum ayahku indah sekali, karena baginya aku adalah pahlawan keluarga kami.

Berikut momentum yang ku ingat sesaat dengannya.  Ketika mentari sore yang hangat bercampur dengan angin membelai kami melalu jembatan kayu ada bincang hati kami agar menyederhanakan keyakinan untuk tidak mengesampingkan peran Tuhan sebagai penentu hakikat keyakinan terus menghargai sebuah proses adalah salah satu alasan untuk memberikan apresiasi terima kasih dan wujud keikhlasan, sehingga kebahagiaan itu tidak indah jika dinikmati dalam kesendirian.

Tabiat seseorang berhubungan dengan seberapa besar ia menaruh hormat kepada dirinya sendiri tidak ada alasan untuk tidak bahagia, kecuali bagi yang tidak pandai bersyukur, tidak pernah bisa mematok standar kecukupan yang sederhana. nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku. Dengan senyum menatap dengan jelas beri kesan harapan besar yang tersembunyi dalam hatiku apapun yang terjadi bagaimanapun keadaanku aku tetaplah pahlawan baginya.. Betapa aku mencintai lelaki pendiam itu.  terik mentari yang dahsyat, penat meredam rindu tergugat. Demikian Ayah yang setiap hari aku merindunya menasehatiku tentang kedamaian hidup seperti dicontohkan burung2 prenjak berdasi, capung2, dan kaum kecebong

 “Ah rindu, kau merontokkan bulu bulu mataku.. itu kenapa ia terus menghantuiku..gak enaknya kangen ketika penampakannya diwakili oleh makhluk bernama jerawat. Manis tapi bikin meringis teriris”

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

One thought on “Rindu Ayah

  1. keren bgt tulisannya…………
    buat tulisan yang lebih banyak lagi ya mbak……..
    salam kenal……..
    ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s