Nurul Wirda

Semerbak Mawar yang dengan senang hati memancarkan Cahayanya

Kota Barus Kota Tua di Nusantara

10 Komentar


Kota Barus, Kota tertua di Nusantara

Sejak awal abad pertama Masehi, kawasan Barus Raya, yang berada di Pantai Barat Sumatera (Sumatera Utara), diyakini menempati posisi penting dalam sejarah perdagangan internasional.

Hasil penelitian dengan pendekatan arkeologi-sejarah (historical archaelogy) di situs Lobu Tua menunjukkan, banyak fakta temuan akhirnya menuntun para ahli pada kesimpulan bahwa kawasan ini telah berperan sebagai pusat bandar niaga internasional selama berabad-abad. Berita tentang eksistensi Barus sebagai bandar niaga, ditandai oleh sebuah peta kuno abad ke-2 yang dibuat oleh Claudius Ptolemeus, seorang gubernur di Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir.

Di sana disebutkan bahwa di pesisir Barat Sumatera terdapat sebuah Bandar niaga bernama Barossai yang menghasilkan parfum (wewangian), yang dikenal sebagai produsen kapur barus. Komoditas ini sangat disukai dan menjadi komoditas penting untuk kawasan Asia dan Eropa. Hal temuan yang terpenting dari Barus, yaitu:  Barus, kota pertama masuknya agama Islam di Indonesia.

Pedagang Arab memasuki Barus sekitar 627-643 M atau sekitar tahun 1 Hijriah, dan menyebarkan agama Islam di daerah itu. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin, bernama Syekh Ismail akan ke Samudera Pasai dan singgah di Barus, sekitar tahun 634 M. Sejak itu, tercatat bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya “Silsilatus Tawarikh.” (Wanti, 2007).

Baru pada tahun 1978, sejumlah arkeolog dipimpin Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog juga pengajar di Universitas Airlangga Surabaya dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, meyakini bahwa Islam sudah masuk sejak tahun 1 Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat sejarawan lokal Dada Meuraxa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya bahwa tulisan pada nisan makam Syekh Rukunuddin itu tahun 48 Hijriah. Pengukuhan itu dikuatkan lagi dalam seminar pada 29-30 Maret 1983 di Medan menyimpulkan Barus merupakan daerah pertama masuknya Islam di Nusantara. (Wanti, 2007).

Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut Ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab. Seorang arkeolog dan ahli kaligrafi kuno Arab dari Prancis Prof. Dr. Ludwig Kuvi mengakui Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, merupakan ulama besar. (Wanti, 2007).

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad 7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu (Kompas, 01/04-2005).

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 Masehi telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Nabi Muhammad SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Secara ringka dapat dipaparkan sebagai berikut: Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab. Demikian hasil temuan G.R. Tibbets yang telah melakukan penelitian dengan tekun. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika (Ridyasmara, 2006).

Getah kayu kamfer yang paling baik kualitasnya, kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus. Sejarawan era kemerdekaan Prof. Mr. Mohamad. Yamin, SH memperkirakan perdagangan rempah-rempah di antaranya kamfer, sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6.000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia. Lebih ke depan dari perkiraan itu, berdasarkan arsip-arsip tua berasal dari kitab suci.

Misalnya dalam Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga sebagai Lobu Tua, Barus. Peradaban lain sempat menyentuh emporium Barus, adalah Yunani yang diperkirakan para pedagangnya mengunjungi Barus di awal-awal Masehi. Seorang pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus, mencatat perjalanannya hingga ke Barousai, sekitar tahun 70 Masehi.

Pencatat sejarah Yunani itu menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab dan Tiongkok juga lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah (Waspada, 26/06-2007).

Di atas telah dikemukakan bukti-bukti tentang hal penting tadi. Pertama, bahwa Barus adalah kota pertama masuknya agama Islam di Indonesia. Dan bahwa barus adalah kota tertua di Indonesia.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai pada abad ke-4-5 Masehi. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri abad ke-5-7 Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya (dari Berbagai Sumber).

Kota Barus ini segera membawa ingatan kita pada kapur barus (kamfer dalam bahasa Belandanya, mungkin dari kata kapur yang diucapkan kofur oleh bangsa Arab). Begitu pula kemenyan (beruoe dalam bahasa Belanda) mungkin dari kata Arab (lu) ban-jawi atau kemenyan Sumatera.

Kapur barus dan kemenyan tersebut sudah lama sekali diekspor dari Barus di samping hasil-hasil lainnya seperti emas, gading dan cula badak. Tetapi, kapur barus yang paling penting, sebab komoditi inilah yang membuat kota Barus begitu terkenal di dunia waktu itu.

Kapur barus asal kota Barus inilah yang paling banyak dicari karena kualitasnya yang terbaik, paling laku dan harganya kurang lebih 8 kali lebi mahal daripada kapur-kapur barus asal tempat lain. (Marco Polo pernah menyebut, harga kapur barus seperti emas dengan berat yang sama!).

Dapat dibayangkan bagaimana majunya sebuah daerah yang memegang monopoli suatu komoditas (kapur barus dan kemenyan) yang sangat dicari “dunia maju” tempo dulu baik di Asia maupun Afrika bagian utara dan mungkin di Yunani. Ada tiga jenis kapur barus pada saat itu, yaitu: Kapur barus dari Kalimantan dan Sumatera (Dryobalanops aromatica), Kapur barus dari China dan Jepang (Cinnamomum Camphora) yang banyak beredar di pasaran dan yang ketiga adalah Blumea balsamifera, yang diproduksi di China dengan nama kapur barus Ngai.

Harga dari kapur barus asal Sumatera ini kira-kira 138 kali lebih mahal dari kapur barus China dan Jepang. (Hobson-Jobson, Glossary of Anglo-Indian Words and Phares)(dari Berbagai Sumber).

Hingga abad ke-16, Barus merupakan pelabuhan penting dalam perdagangan internasional dan komoditas dari Barus adalah kapur barus. Tempat yang menghasilkannya memang terbatas, yaitu di kawasan dekat sebuah anak sungai yang bernama Sungai Singkel. Hasil kapur barus dibawa ke Singkel (kini: Singkil) melalui Sungai Singkel, kemudian diangkut melalui jalan darat, dan akhirnya sampai di Barus.

Walau untuk ke pelabuhan Barus dari arah laut agak sulit jika dibandingkan dengan keadaan di pelabuhan Singkel atau Sibolga, tetapi Barus tetap menjadi pelabuhan terpenting pada abad ke-16, sebagaimana dilaporkan oleh Tomé Pires. Selain kapur barus ini masih ada lagi komoditas lain, yaitu kemenyan. Kemenyan ini tumbuh di hutan-hutan Bukit Barisan di daerah Tapanuli dan Dairi. Sama seperti kapur barus tadi, bahwa kawasan yang menjadi penghasil kapur barus termasuk juga Dairi (dari Berbagai Sumber).

Sesungguhnya Dairi termasuk daerah penghasil kapur barus dan kemenyan yang diekspor melalui Barus di sepanjang sejarah Barus seperti telah dikemukakan tadi. Barus hanyalah merupakan pelabuhan yang menjadi tempat perdagangan kapur barus dan kemenyan, tapi Dairi termasuk daerah yang menghasilkan kedua komoditas tersebut.

Di sinilah sebenarnya peranan Dairi di dalam sejarah Barus, sehingga sejarah Dairi merupakan bagian dari sejarah Barus yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun. Sejarah Dairi tidak dapat dipisahkan dari sejarah Barus yang telah dikemukakan tadi. Dalam konteks inilah kita dapat melihat sejarah Dairi yang sudah demikian panjang hingga ribuan tahun.

Oleh: Edward Simanungkalit (Tulisan ini telah dimuat di Majalah KIRANA, Edisi Nopember 2008, Majalah Pemkab DAIRI)

source=://www.polrestamedan.com/auto-ping/barus-kota-tertua-awal-[masuknya-kristen-dan-islam-di-indonesia/]

Penulis: nurulwirda

Light of the Mind, Star of felicity, Matchless Pearl, Rose of colored Glass, Diamond Envy, Increaser of Joy. с удовольствием, Нюра

10 thoughts on “Kota Barus Kota Tua di Nusantara

  1. saya sebagai warga sumatra utara saya sangat banga dgn prestasi ini

  2. Biasanya disebut-sebut sebelumnya sebagai kota tertua ialah Palembang yang didirikan pada tahun 682 Masehi, tapi Barus masih jauh lebih dulu terkenal.

  3. Hariz telah membeli Izzah dengan harga yang mahal dari tauke kelab itu dan membawa dia keluar dari neraka jahanam itu.

  4. saya bertanyakan kepada dia, kenapa harga mahal melalui sms , dan dia memberikan jawapan setelah berdiam kira kira sejam.

  5. Pemerintah Pusat harus memiliki suatu perencanaan yang baik dan matang dalam mengoptimalkan potensi masing masing daerah melalui desentralisasi ini.

  6. McGrath membuktikannya bahwa pada awal abad ke 16 tampak jelas bahwa gereja di Eropa Barat berada dalam keadaan yang sangat memerlukan pembaruan.

  7. Hotel Fullerton adalah hotel yang sangat mahal, baik dari harga nginapnya ataupun dari sejarah hotel ini dibuat, miliaran US Dollar ngocor untuk membangun bangunan ini.

  8. Bayangkan, semua tulisan yang bagi mereka tak searah dengan aliran realisme sosial dihantam terus menerus, baik yang dimuat di majalah Sastra maupun media lainnya.

  9. waduuhh.. belom sempet baca semuanya.. udah keburu ngantuk.
    lanjutin besok aja ah bacanya. -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s